Akhirnya tabunganku cukup. Tidak terlalu banyak, tapi cukup. Aku tidak perlu lagi menggunakan uang orang lain untuk sekedar membeli rokokku. Dan terlebih lagi, aku sudah mulai bisa mencari tempat tinggalku sendiri. Memiliki kehidupanku sendiri. Memiliki waktuku sendiri. Tidak banyak, tapi aku akan mencoba menikmati yang sedikit itu. Thanks to Genta yang sudah memberikan beberapa pekerjaan untukku.
Aku jadi teringat pertemuan pertamaku dengannya. Tempat itu bernama Coffee For Life. Biasa disingkat jadi CFL. Cee Ef El. Kami janji bertemu di sana jam 3 sore. Walaupun awalnya aku tak yakin bisa memenuhi janji bertemu dengannya, tapi ternyata waktu berpihak padaku sore itu. Jadi aku sudah aku berangkat dari paviliun tempat aku tinggal sejam jam 1:45 siang. Pertama, aku tak mau terlambat. Apalagi ini adalah pertemuan pertamaku dengan orang yang mungkin akan memberiku kesempatan menjadi orang yang tidak bergantung pada orang lain. First impression is alway important. Kedua, aku tidak mau menjadi yang terakhir datang karena akan terlihat tolol kalau aku memasuki tempat itu dan harus celingukkan mencari orang dengan ciri-ciri yang sudah disebutkan Genta padaku sebelumnya. Apalagi aku tidak punya handphone. Bukankah akan lebih baik kalau aku yang duduk nyaman sambil menikmati kopi dan rokokku, dan membiarkan Genta yang celingak-celinguk mencari orang dengan ciri-ciri yang sama dengan yang kusebutkan. "Tinggi gue sekitar 170 senti, rambut panjang, tanned, make jeans item, kaos item, converse pink."
Jam 2:30 siang aku sudah sampai di CFL. Sebenarnya aku bisa sampai di sini 15 menit yang lalu kalau ternyata mencari taksi di kota ini tidak sesusah mencari jarum di tumpukan jerami. Memasukki CFL, aku langsung di sambut oleh seorang greeter. Mbak-mbak yang tersenyum manis sambil bertanya, "smoking atau non smoking?" Smoking. Always smoking! Dan mbak-mbak itupun bertanya lagi. "Mau di dalem atau di luar?" Wah aku tidak tahu ada pilihan indoor dan outdoor. Aku segera melayangkan pandanganku ke arah jendela besar di ujung ruangan. Melalui jendela itu aku bisa melihat pemandangan kota ini dilihat dari ketinggian. Dan di sana ada beberapa pasang bangku dengan payung besar. Sepertinya nyaman. "Di luar aja deh, mbak" jawabku.
Setelah memilih tempat duduk paling ujung dan paling dekat pagar pembatas antara tempat ini dan tebing terjal, aku membuka buku menu. Banyak sekali pilihan kopi di sini.
Cappucino, Espresso, Latte, Americano, Cafe Au Lait, Machiato, Frappe, Frappucino, Kopi luak dan masih banyak lagi. Semuanya kopi. Semuanya kopi. Tidak ada pilihan minuman lain. Bukannya aku butuh jenis minuman lain. Aku justru menganggap tempat ini sebagai surga bagi para penggemar kopi. Ya, penggemar kopi seperti aku ini. Genta tidak salah memilih tempat.
"
Machiato-nya satu ya, Mbak."
"Mau coba pastrynya mbak?"
"Mmm... aku mau
croissant de foule-nya satu deh, Mbak" Aku belum makan apa-apa hari ini. Jelas harus ada karbohidrat yang masuk ke perutku, atau aku jadi uring-uringan. Lapar adalah musuh besarku. Lapar dan tidak adanya rokok.
Tidak sampai 15 menit pesananku sudah datang. Aku menghirup machiato dalam cangkir mungil itu. Sedap. Harum. Aku menyalakan rokokku, dan membiarkan croissantku menjadi dingin. Bukan berarti aku suka memakannya dalam keadaan dingin. Hanya saja, rokok lebih penting dari makan. Ya! Aku memang perokok sejati. Dan hanya perokok sejati yang berpendapat seperti itu. Sesekali aku melirik ke arah pintu yang menghubungkan beranda belakang ini dengan ruangan sebelah dalam. Suatu hal yang selalu dilakukan oleh seseorang yang sedang menunggu orang lain. Kebiasaan mungkin. Sedikit cemas. Akan datangkah Genta? Atau aku hanya ditipunya saja? Hey! Wajar kan kalau aku tidak mempercayainya? Dia bukan temanku. Orang yang baru kukenal, lewat chat pula. Semua orang tahu jarang ada kebenaran di dunia maya.
Sesekali pula kulayangkan pandanganku ke meja-meja lain. Ada dua pasangan lain yang duduk di beranda belakang ini selain aku. Sepasang duduk di dekat jendela. Sepasang lagi duduk di sudut yang berlawanan denganku. Cuaca sedang mendung. Jadi tidak akan kepanasan kalau duduk di luar. Apalagi dengan pemandangan yang begitu menakjubkan. Tempat ini pasti indah kalau malam tiba. Beribu-ribu lampu kota terlihat dari ketinggian ini. Pasti akan serasa memandangi ribuan bintang berwarna-warni. Aku memang pecinta
city lights. Membuatku jadi merasa sedang hidup di dunia yang lain.
Aku melirik jam di pergelangan tangan kananku. Jam tiga kurang lima menit. Saat itulah tiba-tiba pintu kaca penghubung itu terbuka. Dan masuklah seorang pemuda, sekitar akhir 20-an. Rambutnya berpotongan rapi, tinggi sekitar 178 cm, warna kulitnya tanned, tidak terlalu putih, tapi juga tidak terlalu gelap. Badannya yang proposional, tidak gemuk, tidak kurus dan tidak ada otot berlebihan yang menyembul dari balik lengan jaket jeans biru navynya. Di dalam jaket jeans itu ia mengenakan t-shirt berwarna hitam dengan gambar bunga matahari besar berwarna kuning. Di atasnya, ia mengenakan jaket jeans belel berwarna biru navy yang dipadukan dengan jeans hitam dan converse biru. Pasti Genta. Cocok dengan ciri-ciri yang diberikannya padaku. Kecuali satu hal yang tidak disebutkannya. Wajahnya lumayan enak dilihat. Bukan cute, bukan lucu--seperti bagaimana biasanya perempuan-perempuan gaul menyebutnya--, tidak juga bisa disebut ganteng mutlak seperti tampang-tampang iklan underwear Calvin Klein. Tapi jelas aku tidak akan keberatan berlama-lama memandang wajahnya. Maskulin dengan bentuk yang tegas tapi lembut.
Karena tempatku yang disudut, tampaknya Genta tak bisa langsung menemukanku. Sampai akhirnya tiba-tiba pandangan kami bertemu. Setelah bengong sesaat, mungkin mencocokkan dengan ciri-ciri yang kuberikan padanya, akhirnya dia melihat ke arah bawah. Ke arah kakiku. Sepatuku. Tidak banyak yang orang yang mau memakai converse warna pink fanta seperti milikku ini. Lalu tatapannya kembali ke arah mataku, dan sedikit demi sedikit Genta mulai tersenyum dan berjalan ke arahku. Sesampainya di mejaku, ia langsung mengulurkan tangannya. Kami bersalaman. Tercium bau segar dari tubuhnya. Aftershave? Atau cologne? Entahlah. Tapi wanginya enak. Maskulin tapi sedikit manis.
"Kelly"
"Genta"
Suaranya berat, tegas tapi lembut. Enak didengar. Bahkan caranya bersalamanpun mantap. Kemudian Genta menarik kursi yang di seberangku dan duduk.
"Udah lama, K?" tanyanya mengeluarkan rokok dari saku jaketnya.
"Mmm... lumayan. Udah setengah jam-an lah."
"Wow. Padahal gue udah dateng lebih awal lho. Ternyata lo malah duluan."
"Ya, gue nggak mau telat untuk yang kedua kalinya aja. Jadi lebih baik nunggu."
Aku menyeruput machiatoku. Lalu menyalakan rokok berikutnya. Sementara itu mbak-mbak yang tadi mengambil pesananku datang sambil memberikan daftar menu pada Genta. Tersenyum manis dengan pandangan seperti ingin menelan Genta hidup-hidup. Genta bahkan sama sekali tidak memperhatikan itu. Ia hanya berkonsentrasi dengan daftar menunya sebelum akhirnya memutuskan untuk memesan Cappucino dan mini pizza dengan jamur dan tuna sebagai toppingnya.
"Tempat ini surganya pecinta kopi, K. In case you didn't notice."
"Ya, gue tau. Kopi semua di sini."
"Jadi gimana
machiatonya?"
"Yummie!"
"
You know what?"
"
What?"
"
You have that look."
"
What look?"
"Hmm... Apa yah... tampang perempuan psycho."
"Sialan!"
"Hahahaha...." Genta tertawa terbahak-bahak. Lepas, renyah. "Tapi jelas gue nggak akan bosen ngeliat tampang lo."
Aku hanya diam. Menghisap rokokku.
"Tampang lo tuh kaya yang... mmm... lo pernah mengalami kejadian yang berat, yang mempengaruhi hidup lo."
"Please...."
"Beneran. Gue ada bakat ngebaca muka orang."
"
And you expect me to believe that?"
"Ya itu terserah elo. I'm just saying..."
"Nggak penting deh!"
"Tapi bener kan?"
"Lo nggak di posisi cukup dekat dengan gue untuk nanya-nanya soal yang kaya gitu, Ta."
"Woops... sorry." Genta mengangkat kedua tangannya menggesturkan bahwa dia tidak akan akan bertanya lagi. "Gue cuman ngerasa klik aja ama elo. Ngerasa kaya udah kenal lo lama. Asik aja" sambungnya lagi.
"Tapi gue nggak."
"Wihh... lo ini
to the point person juga yah."
Aku tersenyum.
"Ok, biar lebih enak," Genta menggantungkan kalimatnya untuk kemudian menarik amplop putih dan secarik kertas dari kantung dalam jaketnya. "Ini honor lo. Dan lo mesti nanda tangani tanda terima ini." Genta mengangsurkan amplop putih dan selembar kertas itu padaku.
Aku memeriksa tanda terima itu sebentar, lalu menghitung uang yang ada di dalam amplop. Sementara si mbak-mbak tukang senyum itu datang mengantarkan pesanan Genta. Dan segera berlalu setelah Genta mengucapkan terima kasih. Aku menandatangani tanda terima itu, lalu mengembalikannya pada Genta.
"Thanks ya, Ta."
"
Anytime. Jadi ntar kalo ada kerjaan lagi, gue kasih ke elo ya?"
"Siap!"
"Nggak buru-buru kan, K?"
"Nggak. Why?"
"
Nothing. Cuman nggak keberatan kan kalo nongkrong sebentar? Ngobrol-ngobrol."
"
It's ok."
Kami berbicara. Lebih tepatnya Genta berbicara. Aku mendengarkan. Genta menceritakan bagaimana dia membuka usaha pembuatan dengan teman-temannya. Bagaimana pada awalnya begitu susah mencari client yang mau menggunakan jasanya, mengingat perusahaannya masih perusahaan baru dengan portfolio yang tidak terlalu banyak. Sampai akhirnya sekarang sudah banyak projek yang mereka kerjakan. Kadang mereka bahkan sampai harus menolak client karena padatnya jadwal deadline. Atau mereka terpaksa menerima client asal deadlinenya sedikit longgar. Aku? Aku tidak menceritakan apa-apa. Tidak banyak yang bisa kuceritakan.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam 6:20. Hari bahkan sudah gelap. Lampu-lampu kota di bawah sana sudah mulai menyala. Dan seperti dugaanku, pemandangan lampu kota yang terlihat dari sini sangat indah. Kami sempat terdiam sambil memandangi pemandangan yang menakjubkan itu.
"Gue selalu suka pemandangan kaya gini"
"Pemandangan kaya apa, K?"
"Kaya gini.
City lights."
Genta tersenyum. Aku memperhatikan ada sedikit kerutan di ujung matanya setiap tersenyum. Membuat wajahnya semakin enak dilihat.
"Rasanya kaya ada di dunia lain. Kaya dalam mimpi atau apa."
"Berarti nanti kalau kita ketemu lagi, di sini aja yah? Jangan sore. Agak maleman aja."
"Sip!"
"Suatu saat, gue ajak lo ke satu tempat favorit gue. Pemandangannya lebih spektakuler dari sini. Tapi kita harus bawa tiker ama makanan sendiri."
"
I won't mind."
Kami kembali terdiam. Menikmati batang rokok kami masing-masing. Mata kami masih terpaku pada lautan lampu yang begitu menghipnotis. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas. Dua puluh.
"Kayanya udah mulai malem nih. Gue balik deh."
"Lo tadi naik apa, K?"
"Taksi"
"Borju!"
"Hey! Kan udah gue bilang kalo gue baru di kota ini. Nggak tau jalan. Dan naik angkot kayanya suatu hal yang bodoh deh kalo lo nggak ngerti arah."
"Jadi baliknya ntar lo mau naik apa?"
"Tadi gue udah nanya ke supir taksi. Katanya gue bisa telpon taksi, atau naik ojek dari jalanan di depan sana, terus sampe tempat jalan yang di lewati angkot, trus tinggal cari deh angkot yang searah ke tempat gue."
"Hmmm... bareng gue aja deh. Gue anterin ke tempat lo."
"Dan lo jadi tau tempat tinggal gue, trus lo bisa muncul sewaktu-waktu semau lo?"
"Hey! Gue nggak serendah itu ya. Gue nggak akan dateng ke tempat di mana gue nggak diundang untuk dateng." Genta sengit.
"Hehehe... becanda, Ta. Tapi seriously, I'm fine."
"Ya udah. Paling enggak ijinin gue nganterin lo sampe tempat yang lebih beradap deh. Jalan yang lebih rame di mana lo bisa nyari angkot. Nggak baik ngebiarin cewek malem-malem gini naik ojek sendirian."
A gentleman."Well... ok. Makasih, Ta."
Genta memanggil pelayan untuk meminta bill. Dan ketika pelayan dengan bill kami, Genta sibuk mengeluarkan dompet dari kantung belakang jeansnya yang langsung kucegah.
"Biarin gue, Ta. Kan udah janji." jawabku mengeluarkan uang dari amplop yang tadi diberikan Genta padaku.
"Nggak pantes ngebiarin cewek yang bayar di kencan pertama."
"Hah?!
First of all, it's not a date!
And second of all, janji adalah janji. Jadi setiap lo ngasih honor ke gue, lo bakalan ikut menikmatinya dalam bentuk segelas kopi dan sepotong pastry."
Genta menyerah. Aku memberikan meletakkan sejumlah uang sesuai yang ada di bon pembayaran, ditambah 10% untuk tip. Sang mbak-mbak tersenyum dan mengucapkan terimakasih padaku dan berlalu. Aku memasukkan rokok dan amplopku ke dalam tas. Lalu berjalan keluar dari CFL menuju tempat mobil Genta di parkir.
Yah, itu terjadi hampir sebulan yang lalu. Dan selama itu sudah ada 3 kerjaan yang diberikan Genta padaku. Genta puas dengan hasil kerjaku, dan aku puas dengan honor yang diberikan. Sekarang ada cukup tabungan untukku mulai mencari tempat. Sarangku sendiri.
Monday, August 07, 2006
"Eh, lo tau nggak, kemaren gue ngeliat si ambar jalan sama Nico"
Aku mendengar suara itu dari bilik sebelah selagi mengetik draft. Nada suaranya rendah, seperti tidak ingin didengar selain mereka yang ada di bilik sebelah. Tapi tidak cukup rendah bagiku untuk tidak mendengarnya.
"Nico? Nico mana?" ujar suara lain. Sama rendahnya namun masih saja terdengar olehku.
"Itu loooh, anak HI, satu angkatan dengan Ana.."
"Ana? Ana mana? Ana yang rambutnya panjang, apa Ana yang kutu buku, Ana yang kecil atau..."
"Mauren!"
"Vika!" balas suara lain.
"Iiih, sebel deh!" Seseorang menghentakkan kaki disusul sesuatu di banting mengenai bilik.
"Vika anak nakal! Ayo, ambil penghapus gue! Awas aja kalo ilang!"
"Iya iya"
Beberapa menit kemudian,
"Jadi Ana mana sih Vik?"
"Angkatan 97, kecil, rambut cepak, pacarnya Danu,..."
"Ooo". Jeda. "Lo ketemu dimana?"
"Gue lagi jalan bareng nyokap gue. Gila tu anak. Mukanya badak banget!"
"Kenapa?"
"Dia kenal gue dong Ren, ngeliat muka gue hampir tiap hari, boro-boro disapa. Padahal kita tuh satu lift. Dia ke lantai mana, gue ke lantai 4."
"Alah, cuekin aja. Emang gila tu anak. Heran gue, si Pandji kena pelet apa suka sama dia. Susuknya ampuh bener!"
"He eh. Padahal semua lelaki juga tau belangnya dia!"
"Dah ah. Gue mo beres-beres dulu nih. Lo nggak mau pulang?"
"Eits, udah mau jam lima ya? Tunggu di bawah ya Ren!"
"Okay"
Percakapan standar perempuan! ujarku dalam hati. Kalo nggak ngomongin lifestyle, pasti ngegosip. Sepertinya gosip sudah berakar di dalam hati kaum perempuan!
Akhirnya selesai juga pekerjaanku hari ini. Cepat-cepat kubereskan meja kerjaku. Setelah semuanya beres, aku menyempatkan diri untuk membenahi wajahku. Sedikit bedak dan lipstik serta menyisir rambut, aku siap pulang!
"Keisha, duluan ya!"
Aku menoleh. Tetangga sebelah!
"Ok, dah Mauren!"
Tuesday, July 11, 2006
Sialan!! Jam berapa sekarang? Sepertinya aku terlambat! Aku melirik ke jam di pergelangan tangan kiriku. Di pergelangan kiri? Aku biasa memakai jam di tangan kanan! Aku melihat ke kiri dan ke kanan. Ah! Aku sedang berada di jalan raya tidak jauh dari paviliun yang kutempati. Secepatnya aku melepas jam tangan dan memindahkannya ke tangan kanan. Kemudian bergegas aku mencegat angkot pertama yang lewat di depanku. Aku harus segera ke paviliun, mengambil materi yang harus kuserahkan pada Genta hari ini. Beberapa hari yang lalu Genta memang memintaku untuk menterjemahkan materi untuk sebuah website yang sedang di garapnya. Entahlah... Entah karena ia terlalu sibuk atau terlalu malas untuk menterjemahkannya, sehingga akhirnya ia menawarkan pekerjaan ini padaku. Memang pendapatan yang kuperoleh tidak besar, tapi lumayanlah untuk menambah ketebalan dompetku. Lagipula waktu untuk mengerjakannya tidak terlalu banyak, mengingat aku adalah orang yang selalu merasa kekurangan waktu. Di samping itu, waktu kerjanya bisa di sesuaikan dengan kemampuanku.
Sesampai di paviliun, segera aku mengambil pekerjaanku itu, meng-copy-nya ke flashdisk yang entah apa saja isinya ini, lalu segera berlari ke warnet setelah sempat mengganti sepatuku dengan sandal jepit. Setelah menanyakan meja yang kosong pada operator warnet, aku mengambil sebungkus marlboro lights dan sebotol teh botol dingin.
pervert_bishop : You're late!!! >:(
poetic.hatred : sorry, Ta. Gue lupa waktu.
pervert_bishop : ya udah buruan kirimin ke imel gue. gue mau liat dulu kerjaan lo kaya gimana. kalo ok, ntar kalo ada kerjaan lagi gue lempar ke elo.
poetic.hatred : ok. fair enough.
poetic.hatred : bentar lagi attach.
pervert_bishop : lo tinggal di daerah mana, K?
poetic.hatred : Hey!!! Nama gue Kelly! Dan sapa yang bikin lo berhak nyingkat2in nama gue seenak lo?
pervert_bishop : gue yang ngasih hak ke gue sendiri buat nyingkatin nama lo jadi apa aja. Lagian emang kenapa sih? lebih gampang kan ngetiknya. :D
poetic.hatred : lebih gampang buat lo, kan?
pervert_bishop : Jangan salahin gue. Manusia itu mahluk yang egois. :D
poetic.hatred : W!
pervert_bishop : apaan 'W!' ?
poetic.hatred : BIG whatever! udah sent tuh. Coba lo cek.
pervert_bishop : ok, bentar ya...
Sementara itu sambil menunggu Genta memeriksa pekerjaanku, aku menyalakan sebatang Marlboro Lights, meneguk sedikit teh botolku dan mulai membuka beberapa email baru yang belum sempat kuperiksa. Hanya e-mail dari situs lowongan pekerjaan yang memberi informasi tentang lowongan-lowongan yang baru di posting. Biar begitu, tetap saja kuperiksa satu persatu. Siapa tahu ada pekerjaan yang cocok untukku. Dari speaker kudengar suara Morrissey yang mendayu-dayu. Aku tersenyum kecil. Keren juga mas operator warnet ini.
I never wanted to killI AM NOT NATURALLY EVIL
Such things I do
Just to make myself
More attractive to you
HAVE I FAILED ?
Ooh....
I'm The last of the famous
International playboys
The last of the famous
International playboys
Oh, the last of the famous
International playboysBuzzpervert_bishop : Hey! udah gue liat.
poetic.hatred : and.... ?
pervert_bishop : yah gue belom baca semua sih. tapi basically gue sukalah ama kerja lo. ngebantu banget. Temen2 se team gue bhs inggrisnya tuh pada oh-sungguh-sangat-menyedihkan. sedangkan kalo gue kerjain sendiri, agak2 ribet guenya. makasih banget yah K.
pervert_bishop : ntar kalo ada kerjaan lagi, dan gue ga bisa handle, gue lempat ke elo.
poetic.hatred : sip... sip.
pervert_bishop : btw, lo mau pembayarannya gimana nih? di transfer aja ke rekening lo? atau cash aja?
poetic.hatred : kayanya lebih mending cash aja kali yah. Gue ga punya account di bank.
pervert_bishop : Owh My Gawd, K!! Hari giniii? sony udah ngeluarin PSP, PS 3 udah mo keluar, Mac udah ngeluarin iPod, dan lo masih ga punya rekening di bank? lo idup di jaman batu yah?
pervert_bishop : jadi selama ini lo make wesel kalo kirim-mengirim duit?
poetic.hatred : nggak. ini kerjaan pertama gue, pertama kali gue dapet duit sendiri, gue baru di kota ini, dan lo orang pertama yang gue kenal.
pervert_bishop : buset. jadi selama ini lo makan gimana, K? emang sbelom ini lo tinggal di mana?
poetic.hatred : Udah deh ga usah banyak nanya. Lo belom ada dalam posisi cukup-dekat-ama-gue-untuk-bisa-nanya-macem2.
pervert_bishop : Whoooaaa.... judes juga ya lo. Asik juga nih nemu cewe judes kaya gini. :D bikin penasaran. :))
poetic.hatred : siapa yang bilang gue cewe?
pervert_bishop : yaaahh... ga ada kaleee cowo yang namanya Kelly.
poetic.hatred : what do you know? Kali aja ada ortu yang cukup gila buat ngasih nama anak cowonya Kelly. Ngerasa anaknya ga cukup dapet olok2an dari temen2 sekolahnya. :)
pervert_bishop : ya udah. kita buktiin aja lo cewe atau cowo. kemana gue mesti nganterin amplopnya?
poetic.hatred : kayanya lebih enak kalo kita ketemu dimana gitu kali ya.
pervert_bishop : ok. dimana?
poetic.hatred : hey! gue masih baru di sini, remember? gue ga tau tempat yang berjarak lebih dari 3 km dari tempat gue!
pervert_bishop : lo suka kopi?
poetic.hatred : maniac!
pervert_bishop : ada tempat ngopi enak banget di atas.
poetic.hatred : ok, kasih tau alamatnya, ntar gue naik taksi aja ke sana.
pervert_bishop : hari sabtu, jam 3 sore yah. lo traktir gue yah? kan gajian. :D
poetic.hatred : sip! pokoknya kalo lo kasih gue kerjaan, setiap dapet duit, lo gue traktir kopi secangkir. :)
pervert_bishop : deal! see you saturday then?
poetic.hatred : yup! see you. eh alamatnya mana?
Setelah mencatat alamat yang diberikan Genta padaku, aku segera melesat keluar dari warnet dengan perasaan puas dan berbunga-bunga. Akhirnya aku bisa menghasilkan uangku sendiri.
Saturday, July 01, 2006
Bangunan tua dengan lorong berliku-liku. Jendela serta pintu terbuka lebar. Langit-langit yang tinggi. Sendirian menapaki lorong dengan kaki telanjang. Di ujung kulihat sebuah pintu yang sedikit menguak. Aku berjalan ke arahnya.
Tubuhku gemetar ketika hendak melangkah masuk. Kaki terasa berat seolah-olah ada yang menahan untuk tetap diam. Rasa takut mulai menyelimutiku. Tapi apa yang membuatku takut?
Kupaksakan diri. Perlahan-lahan kubuka pintu itu. Sebuah kamar mandi kuno dengan dinding yang lusuh serta lantai penuh dengan lumut. Sementara angin berhembus dari arah lorong. Dingin.
Di dekat bak mandi kulihat seseorang tergeletak. Aku tak dapat melihat wajahnya karena tertutup oleh rambut. Gemetar di tubuhku semakin menjadi. Aku...
00.13 am. Terbangun di keheningan malam. Selalu saja mimpi yang sama.
Thursday, June 22, 2006
Kota yang terkenal dengan udara dinginnya ini ternyata bisa membuatku kepanasan juga. Sambil menghapus keringat sesekali dengan tissue, aku berjalan ke arah warnet yang letaknya sebenarnya tidak terlalu jauh dengan paviliunku, tapi cukup membuatku bersimbah keringat. Mungkin karena keadaan jalannya yang menanjak. Aku melihat ke langit. Matahari belum terlalu tinggi. Yah sekarang memang masih jam 10 pagi. Sebenarnya aku sendiri tidak tahu apa yang akan kulakukan sesampaiku di warnet nanti. Yang jelas aku bertekat untuk mencari pekerjaan. Pekerjaan apapun. Yah, pekerjaan apa saja yang sesuai dengan keadaanku.
"Mas ada yang kosong?" tanyaku pada operator warnet yang sedang tersenyum-senyum sambil menghadap ke monitor.
"Ada mbak. Nomer tujuh" jawabnya dengan tampang sedikit kesal. Mungkin merasa terganggu dengan pertanyaanku.
Tanpa banyak berkata-kata lagi langsung saja aku menuju ke meja nomer tujuh setelah sebelumnya mampir ke lemari pendingin dan mengambil teh botol dingin. Setelah mengaktifkan sistem billingnya, segera aku tenggelam di dunia maya. Membrowsing seluruh situs yang menyediakan informasi-informasi tentang lowongan pekerjaan.
Job Opportunity
Do you want to work in an environment where you can develop your career and work with people who are energetic, innovative and committed to working together to fulfill challenging goals? We are looking for passionate, creative, highly motivated and talented individuals who can do tight deadlines.
We are a dynamic advertising company that is expanding its operations across Indonesia. If you think you have what it takes to be part of our team, we want to hear from you.
Job Function : CopywriterHemm... Menarik...
Main Responsibilities :
* Support the visual with better copy and the best idea, thus found it rightly printed
* Write copy for creative works, such as : booklet, brochure, advertorial, news-ad, magz-ad, poster, billboard, etc.
* Create the best "slogan"
* Be able to combine the writings with targeted objectives in various conditions
* Hard worker and willing to work moreOkay... I can do this...
Job Type : Full TimeSETAN!!! Mana bisa aku bekerja full time?
Setelah hampir satu jam aku berkutat di dalam situs2 lowongan pekerjaan dan menemukan sama sekali tidak ada pekerjaan part time, akhirnya aku memutuskan untuk membuka bloggerku dan memeriksa kalau-kalau ada yang meninggalkan pesan di comment box. Iseng-iseng sambil menunggu loading halaman-halaman website yang membutuhkan waktu lebih lama dari seorang nenek 82 tahun untuk menyeberang jalan. Mungkin karena koneksinya yang sedang tidak bagus. Blogger, hanyalah salah satu cara mengisi waktuku. Yah mungkin juga mejadi satu-satunya tempat dimana aku bisa menuliskan apa saja yang ada dipikiranku. Tidak selalu pikiran yang baik memang. Tapi setidaknya aku tidak perlu khawatir ada orang yang kukenal bisa membacanya. Yah, kalau mau jujur, sebenarnya memang tidak terlalu banyak orang yang kukenal didunia ini. Sebagian karena aku memang tidak terlalu pandai bergaul, tidak pernah merasa nyaman dengan berada dengan orang lain, dan kurasa aku tidak pernah punya waktu yang cukup untuk bisa mengenal seseorang hingga menganggapnya temanku. Pathetic? I dont think so. Aku hanya merasa nyaman dengan kesendirianku.
Dingus
Nice blog. Yeah, nice blog wont give me any money for living.
Nona
yaaa... kenapa harus sad ending sih? kenapa bimo akhirnya harus mati?Karena, missy, harus ada yang mati di satu cerita kalau mau cerita itu jadi best seller. Well seenggaknya itu yang dibilang sama Catherine Tramell di Basic Instinc.
Pervert_bishop
Hey, ever think about being a free lance script or copy writer or whatever? Interested? Add YM id gue, please? Under the same nickname. :)What do you know? Maybe a nice blog really will give me some money for living. Yeah well, worth to try.
Saturday, June 17, 2006
Susahnya nyari kerjaan hari gini!
Sudah tak terhitung berapa banyak CV kukirim di berbagai perusahaan dari iklan baris yang ada di koran-koran, mengikuti bermacam-macam tes yang selalu diakhiri dengan, "kami akan mengabari anda secepat mungkin" dan tidak pernah satu kabar lanjutan menghampiriku, atau malah tidak ada respon sama sekali.
Hhhh... Susah!
Uang di bank semakin menipis. Harus hemat! Tapi jaman sekarang mana bisa berhemat? Untuk sekali makan saja di kota ini menghabiskan paling sedikit empat ribu rupiah saja, itu pun hanya mendapatkan nasi setengah+sayur+tahu+tempe+ikan tongkol atau nasi setengah+sayur+telor+tahu atau bahkan hanya nasi setengah+ayam goreng. Belum lagi makan malam. Di daerah tempat aku bermukim warung nasi yang merupakan tempat makan termurah tutup. Jadi pilihan yang ada hanyalah nasi goreng, ayam goreng/bakar, ikan lele dan soto. Yang paling murah tentu nasi goreng. Tapi belum tentu rasanya sama persis dengan baunya yang menggiurkan. Kadang antara nasi dengan bumbu rasanya jauh banget! Kalo udah gini, aku lebih save makan soto atau ayam atau ikan lele. Empat ribu hanya dapat soto+nasi. Ayam/ikan lele tentunya lebih mahal. Nggak bisa terus-terusan makan enak! Tapi yang ada tubuh malah kekurangan gizi! Pilihan yang sulit!
Coba diitung. Untuk makan saja aku menghabiskan.. taruhlah sepuluh ribu satu hari. Belum lagi ongkos kesana kesini. Angkot sekarang mana mau nerima uang gopek walau jaraknya dekat. Minimal seribu rupiah keluar dari kantong. Mmm, toiletries juga diperhitungkan, make up seperti pembersih wajah dan pelembab. Untung aku tidak terlalu suka dandan. Paling tiap mau keluar hanya memakai lipstik. Lalu pengeluaran untuk mengirim lamaran. Biaya print, beli kertas, perangko, amplop besar, aduh! Sebulan bisa habis satu juta!
Ya ampun...
Kalo ngeliat saldo, aku hanya bisa bertahan hidup cuma sampai empat bulan ke depan! Bulan kelima gimana nasibku?
Ada yang mau ngasih kerjaan nggak sih?
Wednesday, June 14, 2006
Aku mendapati diriku duduk di depan tv yang menyala. Sebuah film drama romantis sedang diputar dari VCD player. Aku memegang sebuah mug berisi teh yang masih mengepulkan asap. Kusesap sedikit teh itu. Manis. Lalu aku meraih remote tv dan mulai mencari-cari channel yang memutarkan acara apa saja yang lebih menarik daripada sekedar film romantis, dan kecewa mendapati tidak ada acara apapun yang layak kutonton. Aku melirik jam di atas meja di sebelah tempat dudukku. Jam delapan lewat duapuluh menit. Semua tv swasta memutarkan sinetron bercerita hampir sama. Mertua kejam, perebutan harta dan kecemburuan yang berlebihan hingga sama sekali tidak terasa nyata. Akhirnya aku hanya memilih salah satu channel dan menekan tombol mute. Cukup kalau aku harus menonton sinetron-sinetron sialan ini. Kalau aku juga harus mendengar suaranya juga, dapat dipastikan aku akan segera bunuh diri sebentar lagi. Setelah mematikan VCD player aku beranjak ke kamar mandi, dan menuangkan isi mugku ke wastafel.
Berjalan ke arah pantry, menuangkan kopi sesendok makan penuh ke mug yang tidak kucuci dahulu, kemudian aku menambahkan satu sendok makan gula putih dan air panas dari dispenser. Kopi satu banding satu. Favoritku. Sambil mengaduknya aku kembali ke depan tv. Melihat Meriam Belina sedang melebarkan matanya, marah-marah pada perempuan cantik dengan tampang tolol, yang aku yakin harus tidur dengan producernya dulu sebelum akhirnya mendapat peran di sinetron itu, sambil berpikir bagaimana Meriam Bellina bisa terperosok begitu dalam ke dalam dunia persinetronan ini, dengan akting yang begitu dibuat-buat hingga terlihat konyol. Padahal seingatku, dulu dia termasuk bintang film layar lebar yang lumayan bisa diperhitungkan. Lihat saja Catatan Si Boy. Tidak terlalu buruk. Belum lagi segudang film lain yang dia bintangi. Memang kebanyakan film-film itu lebih banyak menyuguhkan dada dan paha. Tapi setidaknya tidak sekonyol sinetron-sinetron ini. Yah, mungkin uang memang jadi masalah utama seluruh umat manusia. Seluruh umat manusia kecuali manusia-manusia kaya yang dengan tololnya mau menginvestasikan uang mereka pada pembuatan sinetron tolol.
Menyeruput tegukkan pertama kopiku, aku melihat ke sekeliling. Menikmati sensasi mati rasa di lidahku karena panasnya kopi, aku berpikir bahwa aku harus segera keluar dari tempat ini. Pindah ke tempat yang lebih layak kutinggali. Bukan berarti tempat ini begitu buruknya buatku. Hanya saja aku selalu lebih suka tinggal di lantai atas sebuah bangunan. Semakin ke atas semakin baik. Apalagi untuk kota ini. Pasti pemandangannya akan sangat indah kalau aku tinggal di lantai tiga sebuah gedung. Dengan view kota yang berbukit-bukit. Bayangkan kalau malam. Ribuan lampu berwarna-warni seperti kunang-kunang. Kurasa tak akan ada yang bisa kusesali dengan kepindahanku ke kota ini.
Aku memang baru saja pindah ke kota ini. Kepindahan yang mendadak kalau boleh kukatakan. Aku sendiri tidak terlalu mengerti penyebab aku memilih kota ini. Tapi mungkin di alam bawah sadarku, aku selalu menyukai gunung dan udara yang dingin. Semua itu kudapat dari kota ini. Kota yang tidak terlalu besar tapi cukup menyediakan banyak peluang untukku dapat hidup di sini. Memulai sesuatu yang baru. Memulai hidup yang baru. Entahlah... Mungkin aku memang melarikan diri dari sesuatu saat pindah ke kota ini.
Memulai hidup yang baru. Yah, setidaknya kalau aku memang ingin memulai hidup yang baru, aku harus melakukannya dengan benar. Dan itu semua harusnya berawal dari tempat tinggal. Seharunya aku mulai mencari tempat tinggal yang sesuai dengan yang kuingini. Sebuah kamar kos saja cukup. Tidak perlu terlalu besar. Yang penting ada jendela dan terletak di lantai atas agar aku bisa menikmati semilir angin dingin yang ditawarkan kota ini. Yap, semakin ke atas tempat tinggalmu, semakin dingin udara akan kau rasakan.
Aku menyesap lagi kopiku, lalu menyalakan batang terakhir marlboro lightku. Lalu sambil menjepit rokok di sela-sela bibirku, aku mengubah kotaknya yang kosong menjadi sebuah asbak. Aku memang tidak pernah mempunyai asbak sungguhan. Biasanya aku mematikan rokokku di asbak yang kubuat dari kotak rokok kosong. Setelah itu aku kembali menikmati sedotan demi sedotan nikotin yang meluncur mulus lewat tenggorokanku ke paru-paru.
Aku harus mendapatkan uang dengan jumlah yang cukup dan dalam waktu yang singkat untuk menyewa tempat seperti yang kuidam-idamkan. Untuk memulai hidup baruku sendiri. Tapi bagaimana caranya? Aku tidak bekerja, dan jelas tidak mudah untuk mencari pekerjaan sekarang-sekarang ini. Sementara harga kebutuhan hidup tidak semakin murah. Aku bisa saja mengirimkan hasil tulisanku ke majalah-majalah atau tabloid-tabloid atau ke mana saja yang bersedia membayar. Tapi aku tak yakin hasilnya cukup untuk memulai hidup baruku ini. Lagipula siapa yang mau membaca cerita-cerita bernuansa gelap yang di akhir ceritanya selalu saja ada tokoh yang mati? Aku memang benci cerita-cerita happy ending. Cliche! Cerita-cerita seperti itu biasanya penuh dengan perempuan putus asa yang mendambakan pangeran berkuda putih, yang datang untuk menyelamatkan mereka dari ketololan mereka sendiri.
Akhirnya aku hanya duduk disana, tetap menonton meriam belina yang memelototkan matanya tanpa suara di tv, sambil menyesap kopiku. Aku harus mencari jalan agar bisa segera mencari tempat baru dan kehidupan baru untukku.